Ma’ruf Amin mundur dari kepengurusan Majelis Ulama Indonesia dan PKB
Sinyalmedia.com – Keputusan mengejutkan Wakil Presiden ke‑13 RI, KH Ma’ruf Amin, untuk mundur dari jabatan Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) serta Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) berhasil menarik perhatian publik, media, dan pengamat politik di Tanah Air. Pengunduran diri yang resmi diajukan melalui surat pada akhir November 2025 ini dianggap sebagai momen penting yang berpotensi mengubah dinamika politik dan organisasi keagamaan di Indonesia.
Surat permohonan pengunduran diri Ma’ruf Amin dari posisi Ketua Dewan Pertimbangan MUI periode 2025–2030 telah diterima oleh internal organisasi dan menjadi bahan pembahasan di tingkat pimpinan MUI. Dalam surat tersebut, mantan Ketua Umum MUI itu menyebut faktor usia yang makin lanjut dan panjangnya masa pengabdian sebagai alasan utama keputusan tersebut.
Selain mengundurkan diri dari tubuh MUI, Ma’ruf Amin juga berdampak pada struktur Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) setelah secara resmi mengajukan pengunduran diri dari jabatan Ketua Dewan Syuro partai tersebut. Keputusan ini dikonfirmasi oleh Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, yang menyatakan bahwa Ma’ruf telah menyampaikan niatnya untuk uzlah struktural yakni tidak lagi aktif dalam kegiatan organisasi formal, baik di MUI maupun PKB.
Alasan Pengunduran Diri dan Reaksi Organisasi
Dalam penjelasan yang berkembang, Ma’ruf Amin memilih mundur dari kedua jabatan itu karena ingin memberi ruang bagi regenerasi kepemimpinan dalam organisasi‑organisasi besar tersebut. Di lingkungan MUI, beliau pernah menempati berbagai posisi mulai dari anggota Komisi Fatwa hingga Ketua Umum MUI sebelum menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan selama dua periode.
Zainut Tauhid Sa’adi, Sekretaris Wantim MUI, mengonfirmasi bahwa surat resmi pengunduran diri telah diterima dan rencana pembahasan lebih lanjut oleh pimpinan organisasi sedang berlangsung. Ia menekankan bahwa keputusan itu diambil dengan penuh kesadaran atas pentingnya regenerasi kepemimpinan demi masa depan lembaga.
Sementara itu dalam tubuh PKB, Wakil Ketua Umum Hanif Dhakiri mengatakan bahwa keputusan Ma’ruf Amin sudah lama dikeluarkan kepada Ketua Umum partai. Meski mundur dari struktur, Ma’ruf tetap menyatakan akan membantu PKB dari luar struktural, sebuah langkah yang menunjukkan komitmen terhadap nilai dan arah politik partai.
Sorotan Publik dan Analisis Politik
Keputusan Ma’ruf Amin ini langsung menjadi sorotan media nasional dan diskusi publik. Banyak pihak mempertanyakan dampaknya terhadap kekuatan politik PKB, hubungan antara kelompok keagamaan dan partai, serta arah pengaruh MUI dalam kancah sosial‑politik nasional.
Analis politik dari Universitas Indonesia, Dr. Haris Isnawan, melihat langkah ini sebagai tanda perubahan peran tokoh senior dalam politik Indonesia.
“Ma’ruf Amin memilih uzlah dari struktur institusi besar, yang mengindikasikan pergeseran dari peran operasional ke peran lebih sebagai figur moral dan penasihat,” ujar Haris. Menurutnya, keputusan ini membuka peluang bagi generasi baru untuk mengambil posisi strategis di MUI dan PKB, sekaligus memberi ruang munculnya suara‑suara baru dalam perdebatan politik dan keagamaan di Indonesia.
Haris juga menilai bahwa keputusan ini terjadi di tengah perkembangan politik nasional yang dinamis, di mana partai‑partai dan organisasi keagamaan semakin menyesuaikan diri dengan realitas masyarakat yang cepat berubah.
“Keputusan seperti ini juga bisa mencerminkan strategi politik jangka panjang, di mana tokoh senior memberi peluang regenerasi tanpa memutus hubungan ideologis dengan organisasi,” tambahnya.
Di media sosial, berbagai respons bermunculan. Sebagian netizen menyambut keputusan tersebut sebagai langkah bijak yang membuka ruang pembaruan dalam struktur organisasi penting di Indonesia. Sebagian lain mencatat bahwa keputusan Ma’ruf Amin akan memengaruhi peta kekuatan di kontestasi politik mendatang, terutama dalam konteks koalisi partai dan dukungan kelompok keagamaan terhadap agenda legislatif dan eksekutif.
Respons dari PKB dan MUI
Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB, menegaskan bahwa keputusan Ma’ruf Amin tidak akan menggoyahkan semangat partai. Ia menyatakan bahwa partai akan terus bergerak maju dan menghormati kontribusi yang telah diberikan oleh Ma’ruf. Meski demikian, partai diperkirakan akan segera menyiapkan perombakan struktur internal guna memastikan kelancaran organisasi ke depan.
Di sisi lain, MUI belum mengeluarkan keputusan final mengenai pengganti posisi Ketua Dewan Pertimbangan. Organisasi ini tengah mengadakan rapat internal untuk menentukan langkah selanjutnya dan memastikan transisi kepemimpinan berjalan lancar tanpa mengurangi peran strategis lembaga dalam memberikan pandangan keagamaan dan fatwa kepada masyarakat.
Apa Makna Keputusan Ini bagi Masa Depan?
Bagi para pemerhati politik dan keagamaan, langkah Ma’ruf Amin menggambarkan fase baru dalam sejarah hubungan antara tokoh senior negara, organisasi keagamaan, dan partai politik di Indonesia. Keputusan ini menjadi titik refleksi tentang bagaimana peran tokoh kondang dapat bertransformasi dari posisi struktural menjadi figur moral dan inspiratif di luar struktur formal.
Masyarakat kini menantikan bagaimana regenerasi kepemimpinan di PKB dan MUI akan berjalan, termasuk siapa yang akan mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan. Peta politik Indonesia diprediksi akan terus bergerak dinamis seiring dengan pergeseran peran tokoh‑tokoh senior seperti Ma’ruf Amin, yang kini memilih untuk menepi dari panggung struktural tetapi tetap memiliki pengaruh moral yang signifikan dalam kehidupan politik dan sosial bangsa.