Otomotif

Industri Otomotif China Tumbuh, Tetapi Margin Laba Kian Tipis

Sinyalmedia.comIndustri otomotif China terus menunjukkan performa pertumbuhan volume produksi dan penjualan yang kuat, namun profitabilitas perusahaan semakin tertekan karena perang harga, biaya produksi yang meningkat, serta kompetisi yang kian ketat antar pabrikan domestik.

Data terbaru dari China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan bahwa dari Januari hingga November 2025, margin laba rata‑rata industri otomotif hanya mencapai sekitar 4,4 % salah satu level terendah dalam sejarah. Angka ini berarti meskipun scale (skala) penjualan dan produksi terus membesar, keuntungan yang diperoleh setiap unit kendaraan jauh lebih kecil dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Pertumbuhan pasar tetap terlihat dari volume produksi dan penjualan. Sepanjang 2025, total produksi mobil di China mencapai lebih dari 31 juta unit, dengan kendaraan energi baru (NEV) meningkat tajam dan mendekati penetrasi hampir 50 % dari total produksi. Ekspor kendaraan juga mencetak rekor baru, dengan lonjakan tajam ke pasar utama seperti Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Latin, sejajar dengan strategi pabrikan China memperluas pasar global.

Faktor pendorong utama pertumbuhan ini adalah penetrasi NEV yang semakin tinggi, investasi besar pada teknologi baterai dan kendaraan listrik, serta inisiatif pemerintah untuk mendukung peralihan dari kendaraan konvensional ke kendaraan yang lebih bersih dan efisien. Selain itu, insentif dan kebijakan domestik membantu mendorong permintaan konsumen untuk kendaraan baru.

Di balik angka-angka menarik tersebut, tekanan pada margin laba perusahaan menjadi masalah yang terus membebani industri. Meski pendapatan kotor naik, biaya produksi meningkat lebih cepat termasuk biaya baterai, komponen elektronik, dan tenaga kerja. Secara keseluruhan, biaya industri naik lebih besar daripada pertumbuhan pendapatan, sehingga memaksa perusahaan mempertahankan margin tipis agar tetap kompetitif.

Salah satu faktor terbesar yang menekan profit adalah perang harga yang intensif antara produsen mobil. Persaingan pasar baru, terutama di segmen NEV, mendorong produsen untuk memotong harga jual guna menarik pembeli, yang pada gilirannya semakin memeras margin keuntungan. Diskon dan promosi besar-besaran terjadi secara luas di seluruh negeri, bahkan pada model‑model populer.

Otoritas industri di China pun sudah mengeluarkan peringatan terhadap praktik perang harga yang tidak sehat, karena tidak hanya menggerus margin, tetapi juga membahayakan stabilitas rantai pasok dengan beberapa dealer dan pemasok kecil bahkan mengalami kesulitan likuiditas akibat tekanan harga yang terus dilakukan.

Tekanan margin tidak hanya dirasakan oleh pabrikan besar, tetapi juga oleh pemasok kecil dan menengah di rantai pasok otomotif. Untuk membiayai harga yang lebih rendah sambil mempertahankan volume produksi, sejumlah perusahaan mobil memperpanjang tenggat pembayaran kepada pemasok hingga 60 hari atau lebih sebuah strategi yang membantu mereka mengelola arus kas, tetapi meninggalkan pemasok dalam tekanan keuangan.

Masalah ini menunjukkan tantangan struktural di dalam industri, di mana perusahaan kendaraan besar memiliki kekuatan negosiasi yang jauh lebih besar daripada pemasok, terutama yang lebih kecil. Ketidakseimbangan ini menciptakan risiko pada stabilitas ekosistem otomotif China jika margin tipis terus berlangsung dalam jangka panjang.

Pemerintah China telah mencoba merespons dinamika ini melalui reformasi kebijakan harga dan undang‑undang persaingan yang lebih ketat untuk memastikan pasar berfungsi lebih adil. Perubahan aturan ini diharapkan dapat mengendalikan perang harga yang merugikan serta mempertahankan kualitas produk sekaligus mendorong model bisnis yang lebih berkelanjutan.

Regulator juga mendorong konsolidasi pasar, di mana pabrikan yang lebih kecil atau kurang kompetitif mungkin akan menggabungkan usaha dengan yang lebih besar atau fokus pada segmen khusus untuk mempertahankan profitabilitas di tengah kompetisi yang meningkat.

Berdasarkan tren saat ini, industri otomotif China diperkirakan akan terus tumbuh dalam hal volume penjualan dan ekspor, terutama di segmen kendaraan listrik. Namun, tantangan profitabilitas tetap menjadi isu utama yang harus diatasi, terutama jika perang harga terus berlangsung dan biaya produksi tetap tinggi.

Para analis industri percaya bahwa untuk mempertahankan pertumbuhan yang sehat dan profit jangka panjang, produsen perlu menyeimbangkan antara strategi volume penjualan dan strategi peningkatan margin melalui inovasi teknologi, efisiensi biaya, dan fokus pada pasar ekspor yang lebih menguntungkan.