Kesehatan

Lapisan Lumpur Tebal Jadi Kendala bagi Nakes Pulihkan Akses Kesehatan

Sinyalmedia.comPemulihan akses layanan kesehatan di sejumlah wilayah Aceh Tamiang menghadapi tantangan besar setelah banjir bandang dan longsor menyisakan lapisan lumpur tebal yang menutupi jalan dan fasilitas publik. Bagi tenaga kesehatan (nakes), tantangan ini menjadi hambatan serius dalam menjangkau pasien terutama mereka yang berada di wilayah terpencil dan terisolasi pascabencana.

Sejak beberapa pekan terakhir, kondisi jalan provinsi dan desa-desa di Aceh Tamiang masih dipenuhi lumpur akibat derasnya aliran air dan tanah longsor. Meski pemerintah dan relawan telah bekerja siang malam membersihkan jalur utama, prosesnya berjalan lambat karena ketebalan lumpur dan medan yang sulit dilalui alat berat. Akibatnya, akses ambulans, puskesmas keliling, dan distribusi obat-obatan menjadi terhambat.

Seorang nakes yang ditemui di lokasi menjelaskan betapa beratnya kondisi ini.

“Kami harus menempuh rute alternatif yang jauh lebih panjang, bahkan beberapa titik harus jalan kaki karena lumpur terlalu tebal untuk kendaraan roda empat,” ujar salah satu perawat puskesmas setempat. Ia menambahkan bahwa kondisi ini bukan hanya melelahkan, tetapi juga memberi tekanan emosional karena keterlambatan bisa berakibat fatal bagi pasien gawat darurat.

Dampak Terhadap Pelayanan Kesehatan

Hambatan akses kesehatan ini berdampak pada beberapa aspek layanan:

Pelayanan darurat lambat tiba
Pasien yang membutuhkan pertolongan segera kesulitan dievakuasi tepat waktu. Banyak keluarga terpaksa menggotong sendiri pasien melintasi jalur berlumpur karena ambulans tak bisa menjangkau.

Distribusi obat dan vaksin tertunda
Stok obat di puskesmas kecil dan pos pelayanan terpadu (posyandu) mulai menipis. Pengiriman vaksin rutin dan obat kronis ikut tertunda karena kendaraan logistik tertahan lumpur.

Program imunisasi dan cek kesehatan terganggu
Jadwal layanan rutin seperti imunisasi anak, pemeriksaan ibu hamil, dan pengobatan rutin untuk pasien diabetes atau hipertensi harus ditunda karena petugas tidak bisa menjangkau lokasi.

“Ini bukan sekadar soal fasilitas; ini soal keselamatan jiwa,” kata dokter Puskesmas Banda Mulia. “Kami bisa mati langkah jika tidak menemukan solusi cepat untuk membuka akses.”

Upaya Pemerintah dan Relawan

Pemerintah daerah bersama relawan dan aparat TNI-Polri terus bekerja keras membersihkan jalan dan membuka kembali jalur transportasi. Alat berat seperti excavator, bulldozer, dan truk derek dikerahkan, namun laju pengerjaan tetap lambat karena luasan area yang terdampak.

Bupati Aceh Tamiang menyatakan bahwa pihaknya telah mengajukan bantuan alat berat tambahan dan dukungan logistik dari provinsi dan pemerintah pusat.

“Kami berusaha mempercepat pemulihan, namun medan dan kondisi lumpur yang berat menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya.

Selain itu, tim kesehatan bergerak dengan strategi mobile. Mereka membentuk tim puskesmas keliling menggunakan kendaraan yang lebih tangguh dan motor roda dua untuk mengakses dusun-dusun terpencil. Inovasi ini diharapkan mampu menjangkau pasien yang membutuhkan pengobatan rutin atau perawatan medis ringan.

Kisah Warga Terpencil

Kisah warga desa-desa terpencil turut mengungkap beratnya kondisi. Seorang ibu hamil di Gampong Drien Rampak, misalnya, harus menunda kunjungan pemeriksaan ke puskesmas karena ambulans tidak bisa melewati lumpur setinggi lutut orang dewasa.

“Kami takut jika kontraksi terjadi, tapi tidak ada pilihan selain menunggu jalan bersih,” kata sang ibu dengan wajah cemas. Warga lain menyampaikan kekhawatiran atas stok obat hipertensi yang hampir habis. “Kami sudah beberapa hari tidak bisa ke puskesmas. Jalan dipenuhi lumpur, motor pun susah lewat,” ujar seorang lansia.

Langkah Jangka Panjang

Ahli kesehatan masyarakat menilai bahwa kejadian ini membuka mata tentang pentingnya ketahanan infrastruktur kesehatan di daerah rawan bencana. Mereka mendorong pemerintah untuk tidak hanya fokus pada penanganan darurat, tetapi juga investasi jangka panjang, seperti pembangunan jalan yang lebih tahan cuaca ekstrem, fasilitas pelayanan kesehatan di titik strategis, serta penyediaan ambulans khusus medan berat.

Kondisi lumpur tebal di Aceh Tamiang bukan sekadar masalah teknis. Bagi nakes dan warga terdampak, itu adalah hambatan nyata yang mengancam akses kesehatan dan keselamatan jiwa. Meskipun upaya pemulihan terus dilakukan, tantangan besar masih menanti. Solusi cepat dan strategi jangka panjang menjadi kunci untuk memastikan layanan kesehatan tetap menjangkau seluruh lapisan masyarakat terutama di desa terpencil yang paling rentan.