Indeks Kesehatan Laut RI Naik tapi Belum Berdampak bagi Nelayan Kecil
Sinyalmedia.com – Indeks kesehatan laut Indonesia terus menunjukkan tren positif. Data terbaru dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan perbaikan kualitas ekosistem laut, termasuk meningkatnya stok ikan, kondisi terumbu karang yang lebih sehat, dan ekosistem pesisir yang mulai pulih. Namun, meskipun angka ini menunjukkan kabar baik secara ekologis, kenyataannya dampak positif tersebut belum terasa bagi nelayan kecil, yang masih menghadapi kesulitan tangkapan dan tekanan biaya hidup tinggi.
Peningkatan indeks kesehatan laut menandakan upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya laut mulai membuahkan hasil. Program restorasi terumbu karang, pengawasan wilayah tangkapan, dan pembatasan penangkapan ikan ilegal telah membantu ekosistem laut Indonesia kembali ke kondisi yang lebih seimbang. Beberapa daerah bahkan mencatat kenaikan stok ikan hingga 15–20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun bagi nelayan tradisional, terutama yang mengandalkan perahu kecil dan alat tangkap sederhana, perbaikan ekologis belum langsung meningkatkan pendapatan mereka. Banyak nelayan masih menghadapi tangkapan yang fluktuatif, sering kali jauh di bawah kebutuhan harian atau standar ekonomi yang layak. Faktor cuaca, perubahan iklim, dan keterbatasan akses pasar juga menjadi penghambat utama.
“Stok ikan memang naik, tapi kami tidak bisa memanfaatkan sepenuhnya,” kata seorang nelayan di pesisir Jawa Timur. “Perahu kami kecil, biaya bahan bakar tinggi, dan akses ke pasar terbatas. Kadang yang kami tangkap hanya cukup untuk sehari-hari.”
Selain itu, biaya hidup yang meningkat menambah tekanan bagi nelayan kecil. Harga bahan bakar, kebutuhan pokok, dan peralatan menangkap ikan terus naik, sementara harga jual ikan di tingkat lokal sering kali fluktuatif dan tidak stabil. Hal ini menyebabkan kesejahteraan nelayan tetap rendah meskipun kondisi laut membaik.
Pakar kelautan menilai hal ini sebagai fenomena yang sering terjadi dalam pengelolaan sumber daya alam. Perbaikan ekosistem tidak selalu langsung berdampak pada ekonomi masyarakat kecil, terutama jika akses terhadap teknologi, modal, dan pasar tidak merata.
“Kesehatan laut meningkat, tapi kapasitas nelayan kecil untuk memanfaatkan peningkatan tersebut masih terbatas,” ujar seorang peneliti dari Universitas Diponegoro. “Diperlukan intervensi yang fokus pada pemberdayaan nelayan, bukan hanya konservasi.”
Beberapa solusi yang mulai diterapkan termasuk program subsidi bahan bakar, pelatihan penggunaan alat tangkap modern yang ramah lingkungan, pengembangan koperasi nelayan untuk memperluas akses pasar, serta penyediaan informasi pergerakan ikan melalui teknologi digital. Program-program ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara kesehatan ekosistem dan kesejahteraan nelayan.
Meski demikian, tantangan tetap besar. Perubahan iklim, polusi laut, dan praktik penangkapan ikan ilegal masih menjadi ancaman bagi stabilitas ekosistem dan pendapatan nelayan. Dengan kondisi seperti ini, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga konservasi, dan komunitas lokal agar hasil perbaikan kesehatan laut benar-benar bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk nelayan kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi pesisir.
Kesimpulannya, perbaikan indeks kesehatan laut Indonesia adalah kabar baik bagi ekosistem dan kelestarian sumber daya laut. Namun, bagi nelayan kecil, tantangan ekonomi tetap nyata. Agar manfaat ekologis dapat diterjemahkan menjadi kesejahteraan nyata, diperlukan strategi yang menyeluruh, menggabungkan konservasi, pemberdayaan nelayan, dan akses pasar yang lebih adil. Tanpa langkah-langkah konkret, angka positif di laporan indeks laut hanya akan menjadi statistik, sementara nelayan kecil tetap bergelut dengan kesulitan hidup sehari-hari.