Trump Rencanakan Serangan Besar ke Iran Buntut Demo, Libatkan Israel
Sinyalmedia.com – Presiden Amerika Serikat **Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan secara serius berbagai opsi militer terhadap Iran seiring meluasnya demonstrasi besar-besaran di negara itu yang telah memicu kecaman internasional dan ketegangan geopolitik skala besar. Langkah ini muncul sebagai respons atas krisis domestik Iran yang kini menjadi perhatian global setelah protes massal berlangsung di sejumlah kota besar.
Sejak akhir Desember 2025, aksi protes di Iran dipicu oleh keruntuhan ekonomi, inflasi tinggi, dan penurunan nilai mata uang nasional. Demonstrasi yang awalnya berfokus pada isu kehidupan sehari-hari berubah menjadi sorotan atas tindakan represif pemerintah terhadap pengunjuk rasa. Organisasi HAM menyebutkan sedikitnya lebih dari 500 orang tewas dalam bentrokan dengan aparat keamanan, sementara ribuan lainnya ditahan.
Menanggapi kekerasan tersebut, Trump dan pejabat senior Gedung Putih berulang kali mengeluarkan pernyataan keras terhadap rezim Iran. Trump menyatakan bahwa Washington ‘siap membantu rakyat Iran yang berjuang untuk kebebasan’, dan memperingatkan Tehran agar tidak menggunakan kekuatan mematikan terhadap demonstran damai. Pernyataan ini sekaligus membuka ruang diskusi internal mengenai kemungkinan respon militer AS jika Iran terus menindak demonstran dengan kekerasan.
Laporan terbaru mengungkap bahwa Trump tengah mempertimbangkan beberapa opsi tindakan terhadap Iran mulai dari serangan dunia maya (cyberattack) terhadap infrastruktur militer, serangan udara terbatas, hingga tekanan ekonomi yang lebih besar melalui sanksi lanjutan. Menurut sumber yang dikutip media AS, opsi-opsi ini masih dalam tahap kajian dan belum diputuskan secara final.
Situasi ini turut menempatkan Israel pada status waspada tinggi. Pemerintah Israel, yang telah lama menyatakan Iran sebagai ancaman strategis, memantau dengan cermat perkembangan di wilayah tersebut. Israel melihat demonstrasi besar ini sebagai tekanan ganda terhadap rezim Tehran baik dari dalam maupun dari luar. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara terbuka menyatakan dukungan terhadap aspirasi rakyat Iran, berharap perubahan menuju kebebasan dan kemakmuran bagi rakyatnya.
Namun, wacana serangan militer bukan tanpa risiko. Tehran telah mengeluarkan ancaman tegas bahwa setiap intervensi militer akan direspons dengan serangan terhadap target AS dan Israel, termasuk fasilitas militer. Pernyataan resmi dari parlemen Iran bahkan menyebut pasukan AS dan Israel sebagai target ‘sah’ jika terjadi agresi.
Para analis internasional menilai bahwa keputusan Trump untuk mempertimbangkan opsi militer muncul pada momen yang sangat sensitif. Konflik skala besar di Timur Tengah memiliki potensi eskalasi yang luas, dan dampaknya tidak hanya akan terasa di kawasan tetapi juga secara global melalui pasar energi, stabilitas regional, dan hubungan diplomatik multilateral.
“Kita melihat kombinasi dari tekanan internal (demo besar) dan tekanan eksternal (dukungan AS–Israel) yang menciptakan situasi tegang. Ini bukan sekadar intervensi unilateral, tetapi sama-sama merupakan sinyal geopolitik besar dari Washington dan Tel Aviv,” kata seorang pengamat kebijakan luar negeri.
Sementara itu, Trump sendiri menegaskan bahwa keterlibatan AS tidak otomatis berarti pengerahan pasukan darat besar-besaran. Jubir Gedung Putih menyatakan bahwa strategi yang dipertimbangkan bisa melibatkan tekanan non-kinetik seperti serangan digital dan sanksi ekonomi, selain opsi militer terbatas yang lebih terukur. Namun, detail keputusan akhir masih menunggu pertimbangan intensif dari Dewan Keamanan Nasional AS.
Pada saat yang sama, komunitas internasional termasuk PBB mengimbau kedua belah pihak untuk menahan diri dan mencegah konflik yang lebih luas, seraya menyerukan dialog damai sebagai solusi utama.
Kesimpulannya, kabar bahwa Presiden Trump tengah mempertimbangkan serangan terhadap Iran termasuk diskusi opsi militer dan dukungan implisit terhadap tindakan Israel menjadi isu global yang memicu resonansi luas. Krisis domestik di Iran, tekanan dari demonstran, dan ancaman eskalasi militer menempatkan Timur Tengah pada titik kritis yang membutuhkan kesabaran diplomatik dan pendekatan hati‑hati.