AI Lebih Banyak Digunakan untuk Tujuan Tak Produktif
Sinyalmedia.com – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Mulai dari sektor bisnis, pendidikan, hingga hiburan, teknologi ini menawarkan janji efisiensi, produktivitas, dan inovasi. Namun, berbagai laporan terbaru menunjukkan fakta mengejutkan: sebagian besar penggunaan AI justru dimanfaatkan untuk tujuan non-produktif dan hiburan semata, bukan untuk meningkatkan kinerja atau inovasi strategis.
Fenomena Penggunaan AI Non-Produktif
Survei yang dilakukan oleh lembaga riset teknologi global pada 2025 menemukan bahwa lebih dari 60% pengguna AI menggunakannya untuk aktivitas hiburan, seperti permainan interaktif, aplikasi penghasil konten visual dan audio, chatbot hiburan, hingga media sosial berbasis AI. Sedangkan hanya sekitar 30% pengguna memanfaatkan AI untuk tujuan produktif, seperti analisis data, otomatisasi pekerjaan, atau pengembangan bisnis. Ahli teknologi, Dr. Rina Hartono, menyoroti tren ini sebagai fenomena global, bukan hanya terjadi di Indonesia.
“AI memiliki potensi luar biasa untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Namun kenyataannya, masyarakat lebih sering memanfaatkan AI untuk hiburan dan hal-hal ringan, bukan untuk pekerjaan atau inovasi yang bernilai ekonomi,” ujar Dr. Rina.
Dampak Terhadap Produktivitas dan Ekonomi
Meskipun penggunaan AI untuk hiburan tidak sepenuhnya negatif misalnya dalam mendukung kreativitas digital tetapi jika dominan untuk aktivitas non-produktif, hal ini berpotensi mengurangi nilai ekonomi yang dapat dihasilkan teknologi ini. Pengusaha dan pelaku industri juga mengakui bahwa potensi AI belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam sektor bisnis, manufaktur, dan layanan publik di Indonesia.
Menurut data dari Asosiasi Teknologi Indonesia (ATI), perusahaan yang menerapkan AI secara strategis dalam proses operasional mengalami peningkatan efisiensi hingga 40%. Sayangnya, banyak organisasi yang masih menggunakan AI hanya untuk fitur-fitur tambahan atau sekadar untuk showcase teknologi, bukan untuk mendukung produktivitas utama.
Kebutuhan Edukasi dan Literasi AI
Salah satu faktor penyebab penggunaan AI lebih banyak untuk hal non-produktif adalah literasi teknologi yang masih terbatas. Banyak individu atau perusahaan belum memahami cara memanfaatkan AI secara optimal untuk menganalisis data, mengotomatisasi tugas rutin, atau menciptakan inovasi bisnis baru.
Pakar pendidikan teknologi, Prof. Aditya Prasetyo, menyatakan, “AI seharusnya menjadi alat transformasi. Pendidikan dan pelatihan tentang penggunaan AI yang benar perlu diperkuat, agar penggunaannya bisa mendorong produktivitas, bukan sekadar hiburan atau hal yang tidak bernilai ekonomi.”
Potensi AI untuk Masa Depan
Meski sebagian besar penggunaan AI saat ini masih non-produktif, potensi teknologi ini tetap besar. Sektor pendidikan, kesehatan, transportasi, dan industri kreatif bisa mendapatkan manfaat signifikan jika AI diterapkan secara strategis.
Selain itu, pemerintah dan pelaku industri di Indonesia mulai mendorong program literasi digital dan pelatihan AI, untuk memastikan teknologi ini bisa digunakan secara efektif dan produktif. Dengan pemahaman yang tepat, AI dapat menjadi alat yang meningkatkan efisiensi, mendorong inovasi, dan memberikan nilai ekonomi nyata bagi masyarakat dan bisnis.
Penggunaan AI yang bijak menjadi kunci agar janji efisiensi dan produktivitas yang selama ini diidamkan dapat terwujud, bukan hanya sekadar hiburan semata. Masa depan AI sangat bergantung pada pendidikan, literasi, dan strategi penggunaannya di berbagai sektor.