Bulog Gandeng BRIN Terapkan Teknologi Baru Cegah Beras Berkutu
Sinyalmedia.com – Perum BULOG bergerak cepat untuk memperkuat kualitas stok beras nasional di awal tahun 2026 dengan menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam penerapan teknologi baru yang dirancang untuk mencegah beras menjadi berkutu dan menjaga mutu pangan tetap optimal. Kolaborasi ini dipandang sebagai langkah strategis dalam rangka menjaga ketahanan pangan nasional dan kepercayaan masyarakat terhadap cadangan beras pemerintah.
Langkah ini disampaikan oleh Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, dalam konferensi pers di Jakarta akhir pekan lalu. Rizal menegaskan bahwa teknologi baru dari BRIN akan melengkapi sistem pemeliharaan beras yang sudah berjalan, sehingga kualitas beras yang disimpan di gudang-gudang Bulog bisa tetap terjaga tanpa ketergantungan pada teknologi impor.
Menurut Rizal, Bulog selama ini sudah menerapkan pola pemeliharaan beras berlapis, mencakup inspeksi harian, mingguan, bulanan hingga semesteran. Setiap indikasi gangguan hama atau kerusakan stok langsung ditangani, termasuk melalui tindakan fumigasi cepat agar tidak menyebar ke stok lainnya. Dengan tambahan teknologi BRIN, proses ini diyakini akan semakin efektif dalam mencegah serangan hama seperti kutu beras.
“Teknologi ini memungkinkan kami menjaga beras supaya lebih sehat, kuat, dan tahan lama selama masa simpan. Ini merupakan wujud komitmen kami menjaga kualitas produk beras nasional,” ujar Rizal.
Menurut observasi sektor pangan, tantangan dalam menjaga kualitas beras terutama terkait dengan potensi gangguan hama penyimpanan seperti kutu. Walaupun kasus temuan beras berkutu di beberapa gudang tidak terlalu meluas, upaya pencegahan tetap menjadi fokus utama agar stok tetap layak konsumsi dan aman didistribusikan.
Penguatan teknologi ini sejalan dengan capaian besar Bulog sepanjang 2025, di mana stok beras nasional mencapai level tertinggi dalam sejarah lembaga sejak berdiri pada 1968. Data internal menunjukkan stok beras yang dikelola kini mencapai jutaan ton, dengan sebagian besar hasil serapan dari petani lokal, mencerminkan keberhasilan Bulog dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Pihak BRIN sendiri menyatakan dukungannya penuh terhadap inisiatif ini. BRIN memiliki kapasitas penelitian dan inovasi genetik serta teknologi pangan yang dapat diadaptasi untuk kebutuhan logistics food security seperti penyimpanan beras dalam jangka panjang. Kolaborasi ini menunjukkan sinergi antara riset ilmiah dan implementasi operasional pemerintah dalam menjaga stok pangan strategis.
Para ahli pangan menyebut bahwa kemajuan teknologi dalam penyimpanan dan pemantauan stok pangan merupakan bagian penting dari strategi nasional ketahanan pangan, terutama di tengah dinamika iklim dan permintaan domestik yang terus meningkat. Dengan teknologi baru ini, Bulog berpeluang memperkecil kemungkinan kerusakan stok dan memastikan kualitas beras tetap prima hingga sampai ke tangan konsumen.
Selain itu, kolaborasi Bulog–BRIN juga mencerminkan perubahan paradigma food logistics Indonesia yang lebih proaktif mengadopsi inovasi demi menjawab tantangan era modern. Teknologi ini diharapkan akan digunakan tidak hanya untuk mencegah hama, tetapi juga dalam pengawasan kualitas stok secara real-time, termasuk mengantisipasi perubahan kondisi lingkungan dalam gudang.
Menteri terkait serta pemangku kepentingan sektor pangan nasional menyambut positif kerja sama ini, karena dapat memperkaya basis teknologi lokal untuk menjaga ketersediaan pangan pokok tanpa harus bergantung pada solusi impor. Ini juga sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat food self-sufficiency di masa depan.
Dengan sinergi antara Bulog dan BRIN, pemerintah berharap sistem penyimpanan beras nasional tidak hanya efisien, tapi luas cakupannya, mulai dari perlindungan stok hingga pemeliharaan mutu pangan nasional, serta terus mendukung stabilitas pasokan dan harga beras di seluruh Indonesia.