Teknologi

Di Tengah Laju Teknologi, Kemenag Jadi Penjaga Nilai Kemanusiaan

Sinyalmedia.comDi tengah percepatan teknologi digital yang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat, Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan pentingnya menjaga nilai kemanusiaan, toleransi, dan karakter bangsa agar tidak tergerus arus digitalisasi. Hal ini menjadi semakin relevan mengingat masyarakat kini hidup dalam ekosistem digital yang dinamis, cepat, dan kadang sulit dikontrol.

Kepala Biro Humas Kemenag, Hadi Suprapto, menyatakan bahwa transformasi digital membawa kemudahan akses informasi, layanan publik, dan komunikasi lintas wilayah. Namun, kemajuan ini juga menghadirkan tantangan serius, terutama terkait moral, etika, dan interaksi sosial masyarakat.

“Kita tidak bisa menutup diri dari perkembangan teknologi, tetapi kita harus memastikan nilai-nilai kemanusiaan tetap terjaga. Toleransi, saling menghormati, dan karakter bangsa harus menjadi fondasi dalam menghadapi digitalisasi,” ujarnya.

Menurut Hadi, Kemenag melakukan berbagai strategi untuk mengimbangi pesatnya teknologi tanpa mengorbankan nilai-nilai luhur. Salah satunya adalah memperkuat pendidikan karakter dan moderasi beragama di semua jenjang pendidikan formal dan nonformal. Program-program literasi digital juga digalakkan agar masyarakat, terutama generasi muda, mampu memanfaatkan teknologi dengan bijak, menyaring informasi, dan tidak terjebak konten negatif.

“Digitalisasi bukan musuh, tetapi alat. Kalau tidak dibarengi pendidikan nilai, moral, dan toleransi, arus informasi yang begitu cepat bisa memunculkan konflik sosial, hoaks, dan polarisasi masyarakat,” tambahnya.

Kemenag juga bekerja sama dengan berbagai lembaga, termasuk universitas dan komunitas masyarakat, untuk mengembangkan modul pendidikan berbasis teknologi yang tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Selain pendidikan, Kemenag menekankan peran media sosial sebagai sarana positif dalam memperkuat karakter bangsa. Pejabat Kemenag menekankan pentingnya konten yang mendidik, tidak provokatif, dan mampu membangun kesadaran kolektif akan keberagaman dan persatuan bangsa. Dengan pendekatan ini, generasi muda diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang bijak dalam dunia digital.

Tidak hanya itu, Kemenag juga mengingatkan pemerintah, akademisi, dan sektor swasta untuk menciptakan ekosistem digital yang etis, aman, dan inklusif. Regulasi dan standar etika digital menjadi bagian dari upaya menjaga nilai-nilai kemanusiaan agar perkembangan teknologi tidak merusak fondasi moral masyarakat.

Di sisi lain, masyarakat pun diajak berperan aktif. Setiap individu perlu memahami pentingnya toleransi, menghormati perbedaan, dan membangun karakter kuat agar mampu menavigasi dunia digital dengan cerdas. Pesatnya teknologi membawa peluang besar, tetapi juga risiko, sehingga keterampilan literasi digital dan kesadaran etika menjadi sangat penting.

Kemenag menegaskan bahwa langkah-langkah ini bukan hanya soal menahan arus teknologi, tetapi mengelolanya dengan bijak agar dapat memberikan manfaat maksimal bagi bangsa. Dengan strategi yang terintegrasi antara pendidikan, literasi digital, regulasi, dan peran masyarakat, nilai kemanusiaan, toleransi, dan karakter bangsa diharapkan tetap kuat, meski arus digitalisasi semakin deras.

Sebagai penutup, Hadi menegaskan, “Teknologi berkembang begitu cepat, tapi karakter bangsa harus lebih cepat dan kuat. Kemenag hadir sebagai penjaga nilai kemanusiaan agar generasi mendatang tidak kehilangan identitas dan moralitasnya di era digital ini.”